Likuiditas Ketat, Bank Century Gagal Kliring
Likuiditas Ketat, Bank Century Gagal Kliring

PT Bank Century Tbk (BCIC) dipastikan mengalami kegagalan kliring dipicu ketatnya likuiditas. Hal ini menyikapi berita tentang kegagalan kliring Bank Century yang begitu hebat sehingga tidak diizinkan mengikuti aktivitas kliring, salah satunya terbukti dari lonjakkan dana pada tanggal 23 November 2008 dari Rp2,655 triliun menjadi Rp2,776 triliun.

Ditempat yang sama, Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan Firdaus Djaelani (LPS) Firdaus Djaelani menjelaskan audit Badan Pemeriksa Keuangan terkait penyehatan Bank Century belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Firdaus mengatakan Badan Pemeriksa masih mengumpulkan data-data terkait penyehatan Bank Century yang menelan ongkos Rp6,72 triliun.

Penyelamatan Bank Century dipertanyakan karena membengkaknya ongkos penyelamatan bank tersebut. Langkah penyelamatan juga dinilai tidak punya payung hukum.

Source : Okezone

Anggito : Century Bukan Bank Gagal Berdampak Sistemik
Anggito : Century Bukan Bank Gagal Berdampak Sistemik

Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Anggito Abimanyu mengungkapkan, dirinya belum memiliki bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa Bank Century merupakan bank gagal yang berdampak sistemik pada pertengahan 2008. Anggito mengaku tidak melihat kegagalan Bank Century akan berdampak terhadap kinerja bank-bank lain.

“Saya belum cukup punya bukti, belum cukup yakin bahwa Bank Century yang merupakan bank gagal bakal berdampak sistemik,” kata Anggito.

Menurutnya, kegagalan sebuah bank dapat dikatakan berdampak sistemik jika bank tersebut merupakan bank besar yang punya kaitan dengan bank-bank lain, sehingga memengaruhi kinerja bank lain ketika dinyatakan gagal.

“Saya tidak melihat itu sebagai suatu yang diajukan Bank Indonesia bahwa Bank Century adalah bank gagal yang berdampak sistemik,” ujar Anggito.

Source : Kompas

Robert Tantular : Bank Century Sengaja Dibikin Kolaps
Robert Tantular : Bank Century Sengaja Dibikin Kolaps

Robert Tantular kembali menegaskan ada kejanggalan dalam bailout Bank Century senilai Rp 6,7 triliun. Kejanggalan pertama adalah Century hanya butuh pinjaman Rp 1 triliun, namun yang didapatkan mencapai Rp 6,7 triliun.

Berikut 5 alasan yang dibeberkan Robert Tantular dalam pemeriksaan di Gedung KPK :

1. Bank Century Hanya Butuh Rp 1 Triliun, Tapi Diberikan Rp 6,7 Triliun

2. Proses Pengumuman Kalah Kliring yang Tidak Bijaksana

3. Rencana Sinar Mas Grup Beli Bank Century yang Dikandaskan oleh Pemerintah Demi Bail Out Rp 6,7 Triliun

4. Pemerintah Tak Hormati Hak Pemegang Saham Lama untuk Ikut Menyetor Penambahan Modal

5. Kenapa Sebagian Dana Bail Out (Rp 2,2 Triliun) Didiamkan di Bank Indonesia ?

Source : Liputan 6

LPS : Bank Indonesia Bersalah di Kasus Century
LPS : Bank Indonesia Bersalah di Kasus Century

Mantan Komisioner Lermbaga Penjamin Simpanan (LPS), Firdaus Djaelani melempar kesalahan kepada Bank Indonesia akibat kebijakan dana talangan Bank Century senilai Rp 6,7 triliun. 

Firdaus yang kini menjabat sebagai Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini, mengklaim saat itu LPS hanya menjalankan perintah BI yang ketika itu dipimpin Boediono sebagai Gubernur.

"Itu kebijakan BI yang memberikan FPJP (Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek). Kalau disuruh menyelamatkan ya kami selamatkan. Tapi urusan dari proses awal itu urusan BI," kata Firdaus seusai menjalani pemeriksaan di kantor KPK, Jakarta, Selasa (26/2/2013).

Firdaus menegaskan, bahwa LPS pada posisi pemberian FPJP, sama sekali tidak terlibat.

Source : Tribunnews

Sri Mulyani Bongkar Pelaku Intelektual Kasus Bank Century
Sri Mulyani Bongkar Pelaku Intelektual Kasus Bank Century

Hasil pemeriksaan terhadap mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dinilai bisa membongkat pelaku intelektual dalam kasus dugaan korupsi dalam penetapan Bank Century sebagai Bank gagal berdampak sistemik.

"Keterangan Sri Mulyani itu luar biasa membongkar pelaku intelektual," kata Abraham.

Menurut Abraham, pelaku intelektual kasus Bank Century akan terungkap manakala keterangan Sri Mulyani dilengkapi dengan keterangan dari tersangka kasus ini, yaitu Budi Mulya.

"Periksa Budi Mulya dan keterangannya singkron, baru kita bisa (ungkap pelaku intelektual)," kata Abraham.

Source : Berita Satu

KPK Ungkap Peran Boediono di Kasus Century
KPK Ungkap Peran Boediono di Kasus Century

Surat dakwaan kasus dugaan korupsi Bank Century untuk terdakwa mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Budi Mulya, mengungkap peran Wakil Presiden RI Boediono.

Di antaranya, dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (6/3/2014), Boediono selaku Gubernur BI saat itu disebut menandatangani perubahan peraturan Bank Indonesia (PBI) agar Bank Century memenuhi persyaratan mendapatkan fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP).

"Perubahan PBI tentang fasilitas pendanaan jangka pendek bagi bank umum tersebut ditandatangani Boediono," ujar jaksa KMS Roni saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta.

Source : Kompas

Misbakhun : KPK Diminta Tetapkan Boediono Tersangka
Misbakhun : KPK Diminta Tetapkan Boediono Tersangka

Inisiator Hak Angket Bank CenturyMukhamad Misbakhun menyarankan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk segera menetapkan mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), Wakil Presiden Boediono sebagai tersangka.

"KPK harus secepatnya menetapkan Wapres Boediono sebagai tersangka Bank Century. Dalam putusan vonis Budi Mulya ,divonis bersama-sama Boediono, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia melakukan kejahatan tindak pidana korupsi," ujar Misbakhun dalam pernyataannya yang diterima Tribunnews.com,  Kamis (17/7/2014).

Tidak hanya Wapres Boediono yang layak dan pantas ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus Bank Century. Misbakhun menegeaskan, perlu juga nama-nama Miranda S. Gultom, Siti Ch. Fadjrijah, Muliaman D. Hadad, Hartadi A. Sarwono.

Source : Tribunnews

Kasus Century, Budi Mulya Divonis 10 Tahun Penjara
Kasus Century, Budi Mulya Divonis 10 Tahun Penjara

Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Mulya divonis 10 tahun penjara dalam kasus korupsi Bank Century. Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta juga menghukum denda Rp 500 juta subsider 5 bulan kurungan penjara.

Budi dinyatakan terbukti melakukan korupsi terkait pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) kepada Bank Century dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. 

Dalam pertimbangan yang memberatkan, perbuatan Budi dianggap telah merusak citra BI dan tidak memberi contoh yang baik sebagai pejabat BI. Selain itu, kerugian negara dalam kasus ini juga cukup besar, yaitu mencapai Rp 7 triliun.

Source : Kompas

Budi Rochadi, Saksi Kunci Kasus Century Meninggal
Budi Rochadi, Saksi Kunci Kasus Century Meninggal

Meninggalnya Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) S. Budi Rochadi cukup mengagetkan koleganya. Para anggota Dewan Gubernur BI mengungkapkan kekagetannya mendengar berita meninggalnya Budi Rochadi saat bertugas di New York, Amerika Setikat.

"Kami kaget semua, kami merasa kehilangan," ujar Gubernur BI Hartadi A. Sarwono saat ditemui di kediaman Budi Rochadi, Jalan Jayamandala 1 No. 39, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (11/7/2011).

Sejumlah pejabat BI terlihat mendatangi kediaman Budi Rochadi seperti Gubernur BI Darmin Nasution, dan Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad dan Halim Alamsyah.

Source : Detik

Siti Fajriyah, Saksi Kunci Kasus Century Meninggal
Siti Fajriyah, Saksi Kunci Kasus Century Meninggal

Pelaksana Tugas Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Johan Budi SP menegaskan, status pihak yang patut dimintai pertanggungjawaban hukum terhadap Siti Chalimah Fajriah terkait kasus bailout Bank Century, dihentikan.

"Kami turut berduka cita. Ya, tentu dugaan keterlibatan yang bersangkutan dalam kasus Century tidak diteruskan," ujar Johan, Selasa (16/6).

Siti Chalimah sebelumnya disebut sebagai pihak yang patut diminta pertanggungjawaban hukum dalam dugaan korupsi dalam pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek dan Penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Source : Berita Satu

Keluarga Budi Mulya Desak KPK Usut Dalang Century yang Sebenarnya
Keluarga Budi Mulya Desak KPK Usut Dalang Century yang Sebenarnya

Keluarga mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Bidang Pengelolaan Moneter dan Devisa, Budi Mulya mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengembangkan kasus dugaan korupsi pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

"Sampai saat ini, kami pihak keluarga belum menerima putusan penolakan kasasi bapak (Budi Mulya). Padahal sudah empat bulan. KPK seharusnya bisa menindaklanjuti kasus bailout Century tanpa harus menunggu salinan putusan MA," kata Nadya saat dihubungi, Minggu (23/8/2015).

Nadya tetap meyakini, ayahnya tidak bersalah dalam pengucuran dana tersebut. Dalang kasus Bank Century, kata dia, harus diseret ke pengadilan. Ia menilai, Budi Mulya hanya sebagai pejabat Deputi Moneter dan Devisa Bank Indonesia dan tidak tahu-menahu atas kasus itu.

Source : Kompas

Boediono Kini Sibuk Mengajar di UGM
Boediono Kini Sibuk Mengajar di UGM

Wakil Presiden Boediono menjadi dosen atau pengajar di Universitas Gadjah Mada sejak tahun 1973. Saat menapaki karier di pemerintahan tahun 1988 menjadi salah satu deputi di Bappenas hingga menjadi menteri dan Gubernur Bank Indonesia, Boediono tetap mengajar.

Saat terpilih menjadi wapres mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2009, Boediono mengungkapkan keinginannya tetap mengajar. Di tengah kesibukannya sebagai wapres lima tahun terakhir, Boediono tidak jarang meluangkan waktu memberikan kuliah umum di kampus-kampus.

Kini, menjelang akhir masa jabatannya sebagai wapres, Boediono menyatakan keinginan untuk tetap mengabdi sebagai pendidik saat tugasnya sebagai wapres selesai.

Source : Kompas

KPK Janji Lanjutkan Kasus Century di 2017
KPK Janji Lanjutkan Kasus Century di 2017

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkomitmen melanjutkan pengembangan kasus korupsi dalam pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) Bank Century. 

Menurut Agus, KPK tidak akan menutup kasus yang telah menjerat mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya tersebut. Namun, kata dia, KPK juga masih memiliki setumpuk kasus lain yang tengah didalami.

Dalam amar putusan Budi Mulya, ayah artis Nadia Mulya itu dinyatakan melakukan perbuatan melawan hukum dalam pemberian FPJP kepada Bank Century secara bersama-sama. Antara lain yang disebutkan adalah Boediono selaku gubernur BI, Miranda Goeltom selaku deputi gubernur senior BI, dan Raden Pardede selaku KSSK.

Source : Jawa Pos

Likuiditas Ketat, Bank Century Gagal Kliring
Anggito : Century Bukan Bank Gagal Berdampak Sistemik
Robert Tantular : Bank Century Sengaja Dibikin Kolaps
LPS : Bank Indonesia Bersalah di Kasus Century
Sri Mulyani Bongkar Pelaku Intelektual Kasus Bank Century
KPK Ungkap Peran Boediono di Kasus Century
Misbakhun : KPK Diminta Tetapkan Boediono Tersangka
Kasus Century, Budi Mulya Divonis 10 Tahun Penjara
Budi Rochadi, Saksi Kunci Kasus Century Meninggal
Siti Fajriyah, Saksi Kunci Kasus Century Meninggal
Keluarga Budi Mulya Desak KPK Usut Dalang Century yang Sebenarnya
Boediono Kini Sibuk Mengajar di UGM
KPK Janji Lanjutkan Kasus Century di 2017
Likuiditas Ketat, Bank Century Gagal Kliring

PT Bank Century Tbk (BCIC) dipastikan mengalami kegagalan kliring dipicu ketatnya likuiditas. Hal ini menyikapi berita tentang kegagalan kliring Bank Century yang begitu hebat sehingga tidak diizinkan mengikuti aktivitas kliring, salah satunya terbukti dari lonjakkan dana pada tanggal 23 November 2008 dari Rp2,655 triliun menjadi Rp2,776 triliun.

Ditempat yang sama, Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan Firdaus Djaelani (LPS) Firdaus Djaelani menjelaskan audit Badan Pemeriksa Keuangan terkait penyehatan Bank Century belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Firdaus mengatakan Badan Pemeriksa masih mengumpulkan data-data terkait penyehatan Bank Century yang menelan ongkos Rp6,72 triliun.

Penyelamatan Bank Century dipertanyakan karena membengkaknya ongkos penyelamatan bank tersebut. Langkah penyelamatan juga dinilai tidak punya payung hukum.

Source : Okezone

Anggito : Century Bukan Bank Gagal Berdampak Sistemik

Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Anggito Abimanyu mengungkapkan, dirinya belum memiliki bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa Bank Century merupakan bank gagal yang berdampak sistemik pada pertengahan 2008. Anggito mengaku tidak melihat kegagalan Bank Century akan berdampak terhadap kinerja bank-bank lain.

“Saya belum cukup punya bukti, belum cukup yakin bahwa Bank Century yang merupakan bank gagal bakal berdampak sistemik,” kata Anggito.

Menurutnya, kegagalan sebuah bank dapat dikatakan berdampak sistemik jika bank tersebut merupakan bank besar yang punya kaitan dengan bank-bank lain, sehingga memengaruhi kinerja bank lain ketika dinyatakan gagal.

“Saya tidak melihat itu sebagai suatu yang diajukan Bank Indonesia bahwa Bank Century adalah bank gagal yang berdampak sistemik,” ujar Anggito.

Source : Kompas

Robert Tantular : Bank Century Sengaja Dibikin Kolaps

Robert Tantular kembali menegaskan ada kejanggalan dalam bailout Bank Century senilai Rp 6,7 triliun. Kejanggalan pertama adalah Century hanya butuh pinjaman Rp 1 triliun, namun yang didapatkan mencapai Rp 6,7 triliun.

Berikut 5 alasan yang dibeberkan Robert Tantular dalam pemeriksaan di Gedung KPK :

1. Bank Century Hanya Butuh Rp 1 Triliun, Tapi Diberikan Rp 6,7 Triliun

2. Proses Pengumuman Kalah Kliring yang Tidak Bijaksana

3. Rencana Sinar Mas Grup Beli Bank Century yang Dikandaskan oleh Pemerintah Demi Bail Out Rp 6,7 Triliun

4. Pemerintah Tak Hormati Hak Pemegang Saham Lama untuk Ikut Menyetor Penambahan Modal

5. Kenapa Sebagian Dana Bail Out (Rp 2,2 Triliun) Didiamkan di Bank Indonesia ?

Source : Liputan 6

LPS : Bank Indonesia Bersalah di Kasus Century

Mantan Komisioner Lermbaga Penjamin Simpanan (LPS), Firdaus Djaelani melempar kesalahan kepada Bank Indonesia akibat kebijakan dana talangan Bank Century senilai Rp 6,7 triliun. 

Firdaus yang kini menjabat sebagai Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini, mengklaim saat itu LPS hanya menjalankan perintah BI yang ketika itu dipimpin Boediono sebagai Gubernur.

"Itu kebijakan BI yang memberikan FPJP (Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek). Kalau disuruh menyelamatkan ya kami selamatkan. Tapi urusan dari proses awal itu urusan BI," kata Firdaus seusai menjalani pemeriksaan di kantor KPK, Jakarta, Selasa (26/2/2013).

Firdaus menegaskan, bahwa LPS pada posisi pemberian FPJP, sama sekali tidak terlibat.

Source : Tribunnews

Sri Mulyani Bongkar Pelaku Intelektual Kasus Bank Century

Hasil pemeriksaan terhadap mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dinilai bisa membongkat pelaku intelektual dalam kasus dugaan korupsi dalam penetapan Bank Century sebagai Bank gagal berdampak sistemik.

"Keterangan Sri Mulyani itu luar biasa membongkar pelaku intelektual," kata Abraham.

Menurut Abraham, pelaku intelektual kasus Bank Century akan terungkap manakala keterangan Sri Mulyani dilengkapi dengan keterangan dari tersangka kasus ini, yaitu Budi Mulya.

"Periksa Budi Mulya dan keterangannya singkron, baru kita bisa (ungkap pelaku intelektual)," kata Abraham.

Source : Berita Satu

KPK Ungkap Peran Boediono di Kasus Century

Surat dakwaan kasus dugaan korupsi Bank Century untuk terdakwa mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Budi Mulya, mengungkap peran Wakil Presiden RI Boediono.

Di antaranya, dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (6/3/2014), Boediono selaku Gubernur BI saat itu disebut menandatangani perubahan peraturan Bank Indonesia (PBI) agar Bank Century memenuhi persyaratan mendapatkan fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP).

"Perubahan PBI tentang fasilitas pendanaan jangka pendek bagi bank umum tersebut ditandatangani Boediono," ujar jaksa KMS Roni saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta.

Source : Kompas

Misbakhun : KPK Diminta Tetapkan Boediono Tersangka

Inisiator Hak Angket Bank CenturyMukhamad Misbakhun menyarankan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk segera menetapkan mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), Wakil Presiden Boediono sebagai tersangka.

"KPK harus secepatnya menetapkan Wapres Boediono sebagai tersangka Bank Century. Dalam putusan vonis Budi Mulya ,divonis bersama-sama Boediono, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia melakukan kejahatan tindak pidana korupsi," ujar Misbakhun dalam pernyataannya yang diterima Tribunnews.com,  Kamis (17/7/2014).

Tidak hanya Wapres Boediono yang layak dan pantas ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus Bank Century. Misbakhun menegeaskan, perlu juga nama-nama Miranda S. Gultom, Siti Ch. Fadjrijah, Muliaman D. Hadad, Hartadi A. Sarwono.

Source : Tribunnews

Kasus Century, Budi Mulya Divonis 10 Tahun Penjara

Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Mulya divonis 10 tahun penjara dalam kasus korupsi Bank Century. Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta juga menghukum denda Rp 500 juta subsider 5 bulan kurungan penjara.

Budi dinyatakan terbukti melakukan korupsi terkait pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) kepada Bank Century dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. 

Dalam pertimbangan yang memberatkan, perbuatan Budi dianggap telah merusak citra BI dan tidak memberi contoh yang baik sebagai pejabat BI. Selain itu, kerugian negara dalam kasus ini juga cukup besar, yaitu mencapai Rp 7 triliun.

Source : Kompas

Budi Rochadi, Saksi Kunci Kasus Century Meninggal

Meninggalnya Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) S. Budi Rochadi cukup mengagetkan koleganya. Para anggota Dewan Gubernur BI mengungkapkan kekagetannya mendengar berita meninggalnya Budi Rochadi saat bertugas di New York, Amerika Setikat.

"Kami kaget semua, kami merasa kehilangan," ujar Gubernur BI Hartadi A. Sarwono saat ditemui di kediaman Budi Rochadi, Jalan Jayamandala 1 No. 39, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (11/7/2011).

Sejumlah pejabat BI terlihat mendatangi kediaman Budi Rochadi seperti Gubernur BI Darmin Nasution, dan Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad dan Halim Alamsyah.

Source : Detik

Siti Fajriyah, Saksi Kunci Kasus Century Meninggal

Pelaksana Tugas Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Johan Budi SP menegaskan, status pihak yang patut dimintai pertanggungjawaban hukum terhadap Siti Chalimah Fajriah terkait kasus bailout Bank Century, dihentikan.

"Kami turut berduka cita. Ya, tentu dugaan keterlibatan yang bersangkutan dalam kasus Century tidak diteruskan," ujar Johan, Selasa (16/6).

Siti Chalimah sebelumnya disebut sebagai pihak yang patut diminta pertanggungjawaban hukum dalam dugaan korupsi dalam pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek dan Penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Source : Berita Satu

Keluarga Budi Mulya Desak KPK Usut Dalang Century yang Sebenarnya

Keluarga mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Bidang Pengelolaan Moneter dan Devisa, Budi Mulya mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengembangkan kasus dugaan korupsi pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

"Sampai saat ini, kami pihak keluarga belum menerima putusan penolakan kasasi bapak (Budi Mulya). Padahal sudah empat bulan. KPK seharusnya bisa menindaklanjuti kasus bailout Century tanpa harus menunggu salinan putusan MA," kata Nadya saat dihubungi, Minggu (23/8/2015).

Nadya tetap meyakini, ayahnya tidak bersalah dalam pengucuran dana tersebut. Dalang kasus Bank Century, kata dia, harus diseret ke pengadilan. Ia menilai, Budi Mulya hanya sebagai pejabat Deputi Moneter dan Devisa Bank Indonesia dan tidak tahu-menahu atas kasus itu.

Source : Kompas

Boediono Kini Sibuk Mengajar di UGM

Wakil Presiden Boediono menjadi dosen atau pengajar di Universitas Gadjah Mada sejak tahun 1973. Saat menapaki karier di pemerintahan tahun 1988 menjadi salah satu deputi di Bappenas hingga menjadi menteri dan Gubernur Bank Indonesia, Boediono tetap mengajar.

Saat terpilih menjadi wapres mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2009, Boediono mengungkapkan keinginannya tetap mengajar. Di tengah kesibukannya sebagai wapres lima tahun terakhir, Boediono tidak jarang meluangkan waktu memberikan kuliah umum di kampus-kampus.

Kini, menjelang akhir masa jabatannya sebagai wapres, Boediono menyatakan keinginan untuk tetap mengabdi sebagai pendidik saat tugasnya sebagai wapres selesai.

Source : Kompas

KPK Janji Lanjutkan Kasus Century di 2017

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkomitmen melanjutkan pengembangan kasus korupsi dalam pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) Bank Century. 

Menurut Agus, KPK tidak akan menutup kasus yang telah menjerat mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya tersebut. Namun, kata dia, KPK juga masih memiliki setumpuk kasus lain yang tengah didalami.

Dalam amar putusan Budi Mulya, ayah artis Nadia Mulya itu dinyatakan melakukan perbuatan melawan hukum dalam pemberian FPJP kepada Bank Century secara bersama-sama. Antara lain yang disebutkan adalah Boediono selaku gubernur BI, Miranda Goeltom selaku deputi gubernur senior BI, dan Raden Pardede selaku KSSK.

Source : Jawa Pos

show thumbnails